Johannes Leimena dilahirkan pada tanggal 6 Maret 1905 di Lateri, Ambon, Provinsi Maluku. Baik ayah maupun ibunya adalah guru sekolah di daerahnya. Leimena menempuh pendidikan dasar di Ambon. Sementara, pendidikan tingkat menengah hingga sekolah kedokteran di Stovia ditempuh di Jakarta. Pada usia ke-34, Leimena memeroleh gelar doktor di bidang penyakit dalam, khususnya hati dan ginjal.
Leimena, ayah dari Wakil Ketua MPR RI Melani Suharli Leimena, sejak muda aktif berorganisasi. Pengalaman organisasinya bermula dari Ketua Pergerakan Pemuda Kristen Indonesia Di MULO, Ketua Umum Perkumpulan Jong Ambon, hingga Wakil Ketua Komisi Gereja dan Negara pada Dewan Gereja-Gereja di Indonesia dan Ketua Komisi Militer dalam Konferensi Meja Bundar.
Di bidang pemerintahan, Leimena mengawali kariernya sebagai dokter pemerintah/residen kedua ketika Gunung Merapi meletus hebat pada 1930. Sejak saat itu, kariernya terus naik, mulai dari Menteri Muda Kesehatan Kabinet Sjahrir II pada 1946, Menteri Kesehatan Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II pda 1947, Menteri Kesehatan Kabinet Hatta I dan II pada 1949, hingga Wakil Perdana Menteri untuk urusan Umum Kabinet Dwikora III pada 1966.
Tanda-tanda kehormatan yang pernah dimilikinya, antara lain, Bintang Gerilya pada 1959, Bintang Mahaputera Adipradana pada 1973, Satyalancana Pembangunan 1961, Satyalancana Kemerdekaan, dan Satyalancana Karya Satya. Leimena juga pernah diberikan penghargaan oleh negara sahabat, seperti Bintang Penghargaan dari Thailand, Republik Persatuan Arab, Bintang Jasa dan Penghormatan dari Kamboja dan Meksiko.
Salah satu legasi yang ditinggalkan Leimena adalah “Leimena Plan”, sebuah protek kesehatan yang dilakukan di Bandung pada 1954. Prinsip pokoknya adalah penggabungan usaha kuratif dan preventif di bidang kesehatan, yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama. “Leimena Plan” inilah yang sekarang berkembang menjadi Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Pembangunan Puskesman ini mendapatkan penghargaan dari WHO dan dijadikan sebagai contoh negara-negara lain di dunia.
Leimena meninggal dunia di Jakarta pada 29 Maret 1977




Breakdance adalah salah satu unsur dari 5 unsur hip-hop yaitu mc,gravity,dj dan streetball.Breakdance memiliki macam-macam gerakan dasar/basic seperti top rock/up rock,footwork,freeze dan power moves.Breakdance memiliki macam-macam istilah/nama lain seperti breaking dan bboying.Breakdance datang dari Bronx,New York.Istilah ” B-boy atau B-boying ” dibuat oleh Kool Herc.
















Sejarah Swiss Army Knife dimulai sejak tahun 1886. Saat itu, Swiss mulai melengkapi tentara mereka dengan pisau lipat. Pada tahun 1889, sebuah senapan jenis baru digunakan oleh tentara Swiss. Senjata tersebut bisa dipisah menjadi beberapa bagian untuk memudahkan membawanya, namun untuk membongkarnya dibutuhkan perkakas obeng. Akhirnya, diputuskanlah untuk membuat perkakas serba guna yang terdiri dari sebilah pisau, obeng, mata bor, dan pembuka kaleng yang dapat digunakan oleh para tentara tersebut di medan perang untuk berbagai keperluan disamping untuk membongkar senapan.
Koleksi pisau lipat Wenger sampai saat ini ada lebih dari 400 model. Dari yang paling sederhana hingga yang paling komplit perkakas dan fungsinya. Bahkan Wenger memiliki pisau lipat terbesar yang berhasil mencatat Guinnes World Records sebagai Most Multifunctional Penknife. Pisau lipat dengan nama Giant Knife itu memiliki 87 perkakas dengan kemampuan 141 fungsi. Nah, kalau untuk Anda, mungkin tidak perlu pisau lipat sebesar itu. Cukup sesuaikan dengan apa yang Anda butuhan karena masing-masing seri dari pisau lipat Wenger memiliki kombinasi fungsi yang berbeda-beda. Range produknya cukup besar, sehingga Anda pasti akan menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhan. Jadi, apakah Anda seorang petualang outdoor, seseorang yang menginginkan perkakas ringkas dan praktis untuk keadaan darurat, atau sekedar hobi mengoleksi pisau lipat, Anda bisa datang ke outlet Wenger di Plaza Kemang 88 untuk menemukan sendiri pisau lipat yang Anda butuhkan. (bbl)
















